Home » Artikel Kesehatan

Artikel Kesehatan

ARTIKEL KESEHATAN

ANOSMIA

Anosmia merupakan kondisi ketika Anda kehilangan indera penciuman. Anosmia bisa menyebabkan banyak dampak buruk bagi kesehatan, mulai dari kehilangan nafsu makan hingga dapat berpotensi menyebabkan depresi. Ada banyak hal yang bisa menyebabkan kondisi ini,

Pneumonia

Go into the places only locals are familiar with. Visit little known hideouts and avenues that open the mind into what being a local is all about.

Enjoy professional equipment

Go into the places only locals are familiar with. Visit little known hideouts and avenues that open the mind into what being a local is all about.

ANOSMIA

Indera penciuman merupakan salah satu indera utama yang sangat penting dimiliki manusia. Kehilangan indera penciuman atau anosmia bisa menyebabkan banyak dampak buruk bagi kesehatan, mulai dari kehilangan nafsu makan hingga dapat berpotensi menyebabkan depresi.

Dalam banyak kasus, anosmia hanya bersifat sementara dan akan menghilang dengan sendirinya saat penyakit penyebabnya sembuh. Namun dalam beberapa kasus, khususnya yang disebabkan karena penyakit kronis, kondisi hilang indera penciuman ini bisa terjadi dalam waktu yang sangat lama.

Penyebab Anosmia

Secara sederhana, proses penciuman dimulai dari hidung yang akan mencium aroma tertentu, yang kemudian diproses oleh sel saraf pembau (sel olfaktori). Dari sini, aroma tersebut akan diteruskan menuju otak untuk diidentifikasi dan kita pun akan langsung mengenali aroma tersebut.

Bagi mereka yang mengalami anosmia, proses tersebut tidak berjalan lancar atau bahkan terhambat oleh kondisi tertentu. Dalam kebanyakan kasus, aroma tersebut gagal direspons oleh sel-sel saraf pembau yang menyebabkan otak tidak bisa mengidentifikasi aroma tersebut.

Ada banyak faktor kenapa anosmia bisa terjadi, diantaranya:

● Flu

● Pilek

● Sinusitis

● Rhinitis alergi

● Rhinitis non alergi

● Kebiasaan merokok

Selain kebiasaan yang disebabkan oleh peradangan, anosmia bisa juga disebabkan oleh penyumbatan di rongga hidung yang terkait dengan:

● Tumor

● Polip hidung

● Kelainan tulang hidung

Dalam kasus yang lebih parah, anosmia bisa terjadi akibat kerusakan pada sistem saraf dan otak, baik yang bersifat sementara maupun permanen. Kondisi ini umumnya terkait dengan:

● Diabetes

● Bedah otak

● Tumor otak

● Cedera kepala

● Proses penuaan

● Aneurisma otak

● Sindrom Kallmann

● Sindrom Klinefelter

● Penyakit Alzheimer

● Penyakit Parkinson

● Penyakit Huntington

● Kekurangan nutrisi, seperti zinc

● Efek samping obat-obatan

● Sindrom Wernicke-Korsakoff

● Paparan racun atau insektisida

● Radioterapi di kepala dan leher

Selain itu, anosmia yang berkaitan dengan kerusakan di sistem saraf dan otak bisa juga disebabkan oleh penyakit paget, sindrom sjogren, multiple sclerosis, skizofrenia, hingga infeksi virus corona atau COVID-19. Khusus untuk COVID-19, kondisi ini umumnya hanya bersifat sementara.

Gejala Anosmia

Penderita anosmia tidak mampu atau tidak peka terhadap aroma tertentu. Dalam kondisi yang lebih parah, Anda mungkin tidak akan mampu lagi mencium aroma yang sangat kuat, seperti parfum, bau kotoran, bau gas, dan lainnya.

Jika Anda mengalami kondisi ini dan tidak sedang mengalami flu atau pilek, sebaiknya segera hubungi dokter untuk dilakukan pemeriksaan. Terlebih jika Anda mengalami gejala penyerta, seperti kepala pusing, bicara tidak jelas, kehilangan indera perasa, dan tubuh terasa lemas.

Dokter biasanya akan memberikan beberapa pertanyaan terkait gejala dan riwayat kesehatan Anda. Tidak hanya itu, dokter kemungkinan akan bertanya terkait bau apa saja yang tidak bisa dicium dan gejala penyerta, seperti gangguan indera perasa atau pengecap, gangguan pernapasan, dan lainnya.

Dokter juga dapat merekomendasikan utnuk melakukan beberapa pemeriksaan pendukung, di antaranya:

● CT Scan, pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi gangguan tumor, sinus, patah tulang hidung. dan kondisi lainnya.

● MRI, bertujuan untuk melihat penyakit yang terkait dengan fungsi otak. Pemeriksaan ini umumnya akan dilakukan jika Anda tidak mengalami gangguan pada sinus dan hidung.

● Pemeriksaan terkait COVID-19, mulai dari rapid test sebagai deteksi dini, dan (jika reaktif rapid test), pemeriksaan dilanjutkan ke RT-PCR.

Selama masa pandemi virus corona, kemungkinan besar rapid test dan RT-PCR akan lebih didahulukan ketimbang pemeriksaan lainnya.

Pengobatan Anosmia

Upaya pengobatan anosmia akan sepenuhnya difokuskan kepada penyakit yang jadi penyebab utamanya. Jika terkait dengan infeksi bakteri, dokter akan memberikan obat-obatan yang berhubungan dengan infeksi, peningkatan sistem kekebalan tubuh, dan lainnya. Jika disebabkan alergi, anosmia bisa sembuh sendiri sehingga dokter hanya akan menyarankan Anda untuk menjauhi penyebab munculnya alergi tersebut.

Berdasarkan penyebabnya, terdapat beberapa metode pengobatan anosmia, antara lain:

● Anosmia yang disebabkan oleh kelainan tulang hidung, polip hidung, atau tumor hidung, kemungkinan akan dilakukan prosedur pembedahan

● Anosmia yang berkaitan dengan efek samping konsumsi obat-obatan, solusinya adalah dengan menghentikan atau mengganti obat-obatan tersebut

● Anosmia yang disebabkan karena hidung tersumbat, dokter akan memberikan dekongestan. Umumnya masalah hidung tersumbat ini terkait dengan penyakit flu dan pilek

Sebagai catatan, beberapa orang mengalami anosmia karena kelainan sejak lahir. Kondisi ini umumnya sulit untuk disembuhkan dan bersifat permanen.

Untuk upaya pencegahannya, fokus Anda hanya perlu melakukan pencegahan terhadap penyebab utamanya. Misalnya untuk infeksi bakteri dan virus, anosmia bisa dicegah dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh, istirahat yang cukup, dan konsumsi makanan sehat.

Baca Juga: Happy Hypoxia pada Pasien COVID19, Ketahui Gejala dan Penanganannya

Selain itu, penting juga untuk menjauhi rokok, konsumsi minuman beralkohol, dan kelola stres dengan baik. Semuanya berisiko tinggi menyebabkan penurunan sistem kekebalan tubuh, yang berujung kepada peningkatan risiko anosmia.

Ditinjau oleh:
dr.Bayu Adiputra

as opposed to using ‘Content here